Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore, entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang – karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi, memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut
yang berusaha menembus gorden ?
Petikan cerpen Linguae, Seno Gumira Ajidarma
Semuanya menjadi jelas
ketika aku menyukai ketidakjelasan dalam sebuah kepastian
seperti janji-janji yang mengawang jauh di atas awan
atau seperti bahasa yang aku tak mau mengerti
Aku bukanlah kamu
tidak akan dalam genggamanmu
tak akan pernah
dan selamanya bukan
Abu-abu Kelabu
oh,resti suka yg remang2 ya? hihihi...
ReplyDeletetermasuk warung remang2? *eh
Abu-abu yang ragu-ragu.
ReplyDelete