Saturday, May 8, 2010

Abu-abu Kelabu

Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore, entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang – karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi, memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut 
 yang berusaha menembus gorden ?
Petikan cerpen Linguae, Seno Gumira Ajidarma



Semuanya menjadi jelas
ketika aku menyukai ketidakjelasan dalam sebuah kepastian
seperti janji-janji yang mengawang jauh di atas awan
atau seperti bahasa yang aku tak mau mengerti
 
Aku bukanlah kamu
tidak akan dalam genggamanmu
tak akan pernah
dan selamanya bukan
                                                                                          Abu-abu Kelabu

2 comments:

  1. oh,resti suka yg remang2 ya? hihihi...
    termasuk warung remang2? *eh

    ReplyDelete
  2. Abu-abu yang ragu-ragu.

    ReplyDelete