Showing posts with label Teman. Show all posts
Showing posts with label Teman. Show all posts

Saturday, October 17, 2009

Bagaimana Bisa Aku Tega...

wanginya masih bisa kucium
jari-jemarinya yang mengacak-acak rambutku dengan sayang
suara tawanya yang renyah yang selalu membuatku merasa senang
padahal aku sudah pergi sejauh ini
bukan untuk lari dari kenyataan yang kubuat sendiri
mungkin aku sudah mengakhiri
tapi aku tidak bisa tega untuk menghapus semua jejak itu
jejak yang kubuat sendiri
jejak yang aku dan dia buat bersama


Pagi ini, saya dibangunkan oleh bunyi handphone saya. Ada 5 misscalls dan 1 SMS. SMS itu adalah ending dari dering panggilan yang tiada hentinya.

hey, Great! masih tidur ya?
payah! tapi Nuwara Elliya sama sekali gak payah! Indah!
check ur e-mail

-zelig

HWWWAAATTSSS???

Udah ada di Srilanka lagi aja tu anak...

Dalam waktu cepat nyawa saya sudah menyatu dan langsung menyalakan lapito. Check e-mail, dan mendapati kata-kata di atas terangkai emosi yang menggelegak. Ada sedih. Ada senang. Ada rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.

Saya takjub. Selama dua hari berturut-turut Allah "menitipkan" orang-orang yang saya sayangi pada saya. Menjadikan saya "tempat sampah" untuk mereka. Tapi saya gak keberatan sama sekali. Kalau kemarin malam seorang teman dekat menceritakan kegundahan hatinya dengan secara langsung pada saya. Emosi jeals terlihat dari wajahnya. Matanya yang merah dan berkaca-kaca (yang dia akui sebagai akibat dari kurang tidur... *c'mon... you can not fool me* ) dan emosi meluap yang tertahan dari nada suaranya. Saya paling gak bisa lihat orang menangis atau mau menangis. Karena saya pasti ikutan. Tapi untungnya kemarin enggak ^^,

Alhamdulillah, sebagai penyeimbang, saya dan Zelig tidak ditempatkan bertemu secara langsung. Dia ada di Nuwara Elliya yang indah. Kota yang sejuk peninggalan kolonial Inggris. Salah satu kota impian yang ingin ia kunjungi bersama Chiripa.

Kisahnya Zelig dan Chiripa ada di sini.

Kamu nyesel???

Saya membalas e-mailnya.

Gak berapa lama...

Rasa itu ada. Tapi... sampai sekarang aku gak ngerti kenapa perasaan itu berubah begitu cepat! Ada rasa sesak di dada ini. Ada air mata yang gak bisa jatuh. Dan aku gak suka. Damn! dan Nuwara Elliya... padahal aku belum pernah ke sini sama dia. Tapi, kenapa seperti ada jejak dia. Aku nginep di St.Andrew's.. hotel tua, Great, dan anehnya selalu ada dia. Kamu ngerti maksudku kan?

Saya tidak membalas e-mail Zelig. Belum. Saya gak tau harus membalas apa. Saya rasa, dia hanya butuh untuk "didengarkan". Tapi, pada akhirnya saya teringat dengan kejadian kemarin sore di kantor. Ketika saya dan Febi kebingungan karena selisih lebih. Tapi, kita masih bisa have fun. Sampai akhirnya masalah pun terpecahkan.

"Tea, foto-foto dulu, yuks???" kata Febi.



difotoin sama satu orang *ya iya lah, Tea..*
tapi yang nontonnya banyak! ^^,


mamanya Ozan..
uangnya buat beli susunya Ozan :p



brankas gak cukup.. apa taro di rumah gue aja ya???


Tapi saya jadi pengen ke Nuwara Elliya. Kapan yah??? Tapi kenangan akan Pantai Serikenangan lebih menggoda saya ^^,

Sekali lagi, KAPAN, ya, saya bisa ke sana lagi...


suatu saat di masa lampau bersama Tuandarimasalalu

Saturday, June 6, 2009

Ku Akan Jaga Mereka Selamanya

 
my very best friends ever, insyaAllah :)




Monday, February 16, 2009

Teman Baruku Itu Bernama Tuan Musang

"Kak, Kakak... bangun..!"

Saya yang memang sudah setengah bangun langsung menyembulkan kepala saya dari dalam selimut. Jj, adik saya, tengah berdiri di depan tempat tidur dengan wajah panik.

"Ada apa?" tanyaku sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 04.30 pagi. Sayup-sayup terdengar suara seseorang mengaji dari mesjid. Damainya.

"Ada musang, Kak, di jalan setapak menuju teras!"

***

Terus terang saya memang belum pernah melihat musang, dalam artian melihat dalam waktu yang lama dan berdekatan seperti tadi subuh. Saya tahu di atas rumah saya ada musang. Saya pernah satu kali melihatnya. Sekilas. Kira-kira dua tahun yang lalu. Ternyata musang itu lucu juga. Entah kenapa makhluk tersebut mengingatkan saya pada Daisy yang kini ada di Cipanas. Makhluk bertubuh gemuk dengan bulu tebal berwarna hitam bercampur coklat itu terbaring di jalan setapak menuju teras rumah.

Daisy

"Tadi dia dede toel pake kayu, kak, terus matanya terbuka, tapi gak lama merem lagi" kata Jj.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa itu musang gak kabur ya pas Jj melihat dia bahkan sampe Jj sempet noel segala. Jawaban dari pertanyaan itu baru saya ketahui sekitar jam 6 pagi.

"Dia masih idup, kan, kak?"

"Masih lah, de.. lihat aja itu masih bernafas.."

Lalu saya dan Jj masuk ke dalam rumah. Membiarkan si musang tidur tenang. Tak lama kemudian, ketika saya dan Jj baru masuk ke kamar masing-maisng, saya mendengar musang itu berbunyi (kebetulan kamar saya dekat dengan teras). Saya langsung mengambil handphone dan mengirimkan sms ke Jj.

de, musangnya bunyi!

Jj dan saya langsung keluar kamar dan membuka pintu depan. Ternyata posisi musang itu berubah. Matanya terpejam dan masih bernafas. Sekali kedua tangannya seperti menggapai-gapai sesuatu di udara kosong.

"Ih, kak, dia ngigo kali, ya"

"Hmm..."

Lalu kami masuk kembali ke dalam rumah.

Sekitar jam 6 pagi, saya membuka pintu depan dan mendapati si tuan musang (tau dari mana dia jantan?) masih tertidur dalam posisi yang sama. Aneh. Saya dekati dia dan... saya terkejut karena tubuhnya kaku. Tidak ada tanda-tanda dia masih bernafas.

Saya langsung menuju kamar Jj yang penghuninya masih terlelap karena baru pulang jam 04.30 tadi (Jj habis dari ulang tahunnya Febby. Di-sms-in sama mama nya Febby kalau semua teman-temannya Febby jam 12 teng kudu kumpul di rumah Febby. Bikin surprise party ceritanya).

Yah, tuan musang memang sudah tiada. Tidak terdapat tanda-tanda luka di tubuhnya. Asumsi saya dan mama, dia mungkin habis makan tikus. Tikus? Apa musang makan tikus? Kalo iya makan tikus, kok bisa mati?

Akhir-akhir ini orang rumah emang lagi be-te gara-gara kehadiran si Dora (tikus.red). Mama membeli racun tikus berbentuk makanan untuk menjerat si Dora. Asumsi kami, penyebab tuan musang meregang nyawa karena sebelumnya dia menyatap si Dora.

Lalu saya langsung googling, pengen memastikan, apakah musang memang makan tikus. Dan hasilnya adalah...

Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walau tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal, serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.
(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Musang_luwak)

Jadi, info tersebut menguatkan asumsi mama dan saya. Hmmm... kasihan tuan musang. Padahal saya sangat menyukainya saat pertama bertemu. Dan terbersit fikiran untuk memeliharanya. Tapi apa mau dikata :(

So long my new friend...


*gambar tuan musang diambil dari sini