Monday, February 16, 2009

Teman Baruku Itu Bernama Tuan Musang

"Kak, Kakak... bangun..!"

Saya yang memang sudah setengah bangun langsung menyembulkan kepala saya dari dalam selimut. Jj, adik saya, tengah berdiri di depan tempat tidur dengan wajah panik.

"Ada apa?" tanyaku sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 04.30 pagi. Sayup-sayup terdengar suara seseorang mengaji dari mesjid. Damainya.

"Ada musang, Kak, di jalan setapak menuju teras!"

***

Terus terang saya memang belum pernah melihat musang, dalam artian melihat dalam waktu yang lama dan berdekatan seperti tadi subuh. Saya tahu di atas rumah saya ada musang. Saya pernah satu kali melihatnya. Sekilas. Kira-kira dua tahun yang lalu. Ternyata musang itu lucu juga. Entah kenapa makhluk tersebut mengingatkan saya pada Daisy yang kini ada di Cipanas. Makhluk bertubuh gemuk dengan bulu tebal berwarna hitam bercampur coklat itu terbaring di jalan setapak menuju teras rumah.

Daisy

"Tadi dia dede toel pake kayu, kak, terus matanya terbuka, tapi gak lama merem lagi" kata Jj.

Dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa itu musang gak kabur ya pas Jj melihat dia bahkan sampe Jj sempet noel segala. Jawaban dari pertanyaan itu baru saya ketahui sekitar jam 6 pagi.

"Dia masih idup, kan, kak?"

"Masih lah, de.. lihat aja itu masih bernafas.."

Lalu saya dan Jj masuk ke dalam rumah. Membiarkan si musang tidur tenang. Tak lama kemudian, ketika saya dan Jj baru masuk ke kamar masing-maisng, saya mendengar musang itu berbunyi (kebetulan kamar saya dekat dengan teras). Saya langsung mengambil handphone dan mengirimkan sms ke Jj.

de, musangnya bunyi!

Jj dan saya langsung keluar kamar dan membuka pintu depan. Ternyata posisi musang itu berubah. Matanya terpejam dan masih bernafas. Sekali kedua tangannya seperti menggapai-gapai sesuatu di udara kosong.

"Ih, kak, dia ngigo kali, ya"

"Hmm..."

Lalu kami masuk kembali ke dalam rumah.

Sekitar jam 6 pagi, saya membuka pintu depan dan mendapati si tuan musang (tau dari mana dia jantan?) masih tertidur dalam posisi yang sama. Aneh. Saya dekati dia dan... saya terkejut karena tubuhnya kaku. Tidak ada tanda-tanda dia masih bernafas.

Saya langsung menuju kamar Jj yang penghuninya masih terlelap karena baru pulang jam 04.30 tadi (Jj habis dari ulang tahunnya Febby. Di-sms-in sama mama nya Febby kalau semua teman-temannya Febby jam 12 teng kudu kumpul di rumah Febby. Bikin surprise party ceritanya).

Yah, tuan musang memang sudah tiada. Tidak terdapat tanda-tanda luka di tubuhnya. Asumsi saya dan mama, dia mungkin habis makan tikus. Tikus? Apa musang makan tikus? Kalo iya makan tikus, kok bisa mati?

Akhir-akhir ini orang rumah emang lagi be-te gara-gara kehadiran si Dora (tikus.red). Mama membeli racun tikus berbentuk makanan untuk menjerat si Dora. Asumsi kami, penyebab tuan musang meregang nyawa karena sebelumnya dia menyatap si Dora.

Lalu saya langsung googling, pengen memastikan, apakah musang memang makan tikus. Dan hasilnya adalah...

Musang ini kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walau tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal, serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.
(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Musang_luwak)

Jadi, info tersebut menguatkan asumsi mama dan saya. Hmmm... kasihan tuan musang. Padahal saya sangat menyukainya saat pertama bertemu. Dan terbersit fikiran untuk memeliharanya. Tapi apa mau dikata :(

So long my new friend...


*gambar tuan musang diambil dari sini


4 comments:

  1. walah, aku kira itu foto musang yg km ambil sendiri..

    ReplyDelete
  2. baik-baik yah mbak sama tuan musang :)

    ReplyDelete
  3. tp kayaknya musang itu bukan jenis hewan yang bisa dijadiin peliharaan deh tie.

    ReplyDelete
  4. @somethin'

    iya ya... sepertinya. Tapi lucu sangat itu makhluk ^ ^

    ReplyDelete