Kehilangan pertama saya adalah ketika Opa saya meninggal. Rasanya sulit untuk menerima orang sebaik beliau dan sosok pandai dan humoris itu begitu cepat dipanggil oleh-Nya. Selama riwayat hidupnya beliau tidak pernah sakit parah. Beliau meninggal ketika baru masuk ke dalam rumah setelah menikmati sore di teras sambil menunggu kedatangan Oma yang saat itu sedang berada di Manado, menghadiri pemakaman saudara kembarnya.
Semenjak Oma pergi ke Manado, Opa memang lebih intens duduk di teras rumah. Sendiri dengan secangkir teh yang selalu ada di meja kecil sebelah tempat duduknya. Tanteku bilang, sorot mata Opa sarat dengan kerinduan. Tidak heran, karena mereka tidak pernah berpisah lama. Ketika itu Oma sudah hampir satu minggu di Manado.
Kasihan Oma ku tersayang, ketika beliau pulang ke rumah duka menyambutnya kembali. Setelah kehilangan saudara kembar tercintanya, beliau harus menerima kehilangan teman hidupnya. Belahan jiwanya. Saya masih ingat Oma dipapah turun dari dalam bus Bluebird oleh Opa Lex, adik Oma, diikuti dengan kerabat-kerabat lain yang datang dari Manado dan Jakarta. Sepertinya, Oma tidak ada daya untuk berdiri dan beliau menangis tanpa air mata. Langit malam begitu sunyi. Tiada gemintang dan rembulan menerangi. Kelabu berbalut kelam merajai, seolah ikut berduka.
Selama bertahun-tahun, Oma merasa bersalah karena telah meninggalkan Opa begitu lama dan tidak ada di samping Opa ketika Yang Maha Kuasa memanggilnya. Oma tidak mau berpergian terlalu lama lagi. Setiap kali Oma berkujung ke tempat peristirahatan Opa, kata maaf lah yang selalu terucap dari bibirnya.
Peristiwa itu memberikan saya pelajaran, bahwa semua makhluk hidup yang ada di dunia ini tidak kekal. Terutama orang-orang yang saya cintai. Even if I was a powerfull person in the world, saya hanyalah manusia biasa yang tidak ada daya untuk menahan orang-orang yang saya cintai untuk tidak pergi.
Ketika Opa pergi, terbersit rasa menyesal karena saya jarang menghabiskan waktu bersama beliau. Jarang bertukar kabar dan cerita. Maka dari itu, setiap kali saya bertemu Oma, saya selalu mencium kedua pipinya dan intens ngobrol dengannya.
Kehilangan kedua adalah ketika nenek saya meninggal. Nenek saya yang cantik dan pandai bermain piano. Banyak kenangan yang saya lalui bersama beliau. Mendengarkan lagu-lagunya Mariah Carey dan Sinatra bareng, beliau mengajari saya bernyanyi, masa-masa kecil saya pun lebih banyak saya habiskan bersama beliau ketika saya di Cipanas. Bukannya bersama sepupu-sepupu saya.
Ketika beliau meninggal, tidak setitik air mata pun keluar dari kedua mata saya. Bukannya saya tidak sedih. Justru saya lebih dari sedih. Perasaan saya lebih dari yang namanya sedih dan kehilangan. Ketika beliau meninggal, semua memori saya bersamanya bermain di dalam imaji seperti film dokumenter hitam-putih. Semuanya tidak akan kembali.
Saya memang telah kehilangan beliau untuk selamanya. Tetapi apa yang ditinggalkannya sangat berharga dan tak ternilai. Bukan.. bukan cincin bertatahkan permata yang beliau berikan kepada saya empat bulan sebelum beliau jatuh sakit. Tetapi kenangang-kenangan dan teladan yang beliau tinggalkan untuk saya. Bahwa saya memiliki seorang nenek yang hebat. Bahwa beliau akan selalu ada di setiap langkah saya. Bahwa doa-doa yang saya kirimkan untuknya setiap kali sehabis saya solat adalah bukti kalau beliau itu selalu ada.
Saya memang tidak bisa menentang kehilangan. Tetapi supaya tidak menyesal ketika kehilangan itu hadir, saya akan selalu berusaha untuk mengekspresikan kasih sayang saya melalui sikap saya kepada orang-orang yang saya cintai.
Semenjak Oma pergi ke Manado, Opa memang lebih intens duduk di teras rumah. Sendiri dengan secangkir teh yang selalu ada di meja kecil sebelah tempat duduknya. Tanteku bilang, sorot mata Opa sarat dengan kerinduan. Tidak heran, karena mereka tidak pernah berpisah lama. Ketika itu Oma sudah hampir satu minggu di Manado.
Kasihan Oma ku tersayang, ketika beliau pulang ke rumah duka menyambutnya kembali. Setelah kehilangan saudara kembar tercintanya, beliau harus menerima kehilangan teman hidupnya. Belahan jiwanya. Saya masih ingat Oma dipapah turun dari dalam bus Bluebird oleh Opa Lex, adik Oma, diikuti dengan kerabat-kerabat lain yang datang dari Manado dan Jakarta. Sepertinya, Oma tidak ada daya untuk berdiri dan beliau menangis tanpa air mata. Langit malam begitu sunyi. Tiada gemintang dan rembulan menerangi. Kelabu berbalut kelam merajai, seolah ikut berduka.
Selama bertahun-tahun, Oma merasa bersalah karena telah meninggalkan Opa begitu lama dan tidak ada di samping Opa ketika Yang Maha Kuasa memanggilnya. Oma tidak mau berpergian terlalu lama lagi. Setiap kali Oma berkujung ke tempat peristirahatan Opa, kata maaf lah yang selalu terucap dari bibirnya.
Peristiwa itu memberikan saya pelajaran, bahwa semua makhluk hidup yang ada di dunia ini tidak kekal. Terutama orang-orang yang saya cintai. Even if I was a powerfull person in the world, saya hanyalah manusia biasa yang tidak ada daya untuk menahan orang-orang yang saya cintai untuk tidak pergi.
Ketika Opa pergi, terbersit rasa menyesal karena saya jarang menghabiskan waktu bersama beliau. Jarang bertukar kabar dan cerita. Maka dari itu, setiap kali saya bertemu Oma, saya selalu mencium kedua pipinya dan intens ngobrol dengannya.
Kehilangan kedua adalah ketika nenek saya meninggal. Nenek saya yang cantik dan pandai bermain piano. Banyak kenangan yang saya lalui bersama beliau. Mendengarkan lagu-lagunya Mariah Carey dan Sinatra bareng, beliau mengajari saya bernyanyi, masa-masa kecil saya pun lebih banyak saya habiskan bersama beliau ketika saya di Cipanas. Bukannya bersama sepupu-sepupu saya.
Ketika beliau meninggal, tidak setitik air mata pun keluar dari kedua mata saya. Bukannya saya tidak sedih. Justru saya lebih dari sedih. Perasaan saya lebih dari yang namanya sedih dan kehilangan. Ketika beliau meninggal, semua memori saya bersamanya bermain di dalam imaji seperti film dokumenter hitam-putih. Semuanya tidak akan kembali.
Saya memang telah kehilangan beliau untuk selamanya. Tetapi apa yang ditinggalkannya sangat berharga dan tak ternilai. Bukan.. bukan cincin bertatahkan permata yang beliau berikan kepada saya empat bulan sebelum beliau jatuh sakit. Tetapi kenangang-kenangan dan teladan yang beliau tinggalkan untuk saya. Bahwa saya memiliki seorang nenek yang hebat. Bahwa beliau akan selalu ada di setiap langkah saya. Bahwa doa-doa yang saya kirimkan untuknya setiap kali sehabis saya solat adalah bukti kalau beliau itu selalu ada.
Saya memang tidak bisa menentang kehilangan. Tetapi supaya tidak menyesal ketika kehilangan itu hadir, saya akan selalu berusaha untuk mengekspresikan kasih sayang saya melalui sikap saya kepada orang-orang yang saya cintai.
jadi inget nenek saya yang gualaknya minta ampun...tp kok ngangenin ya :)
ReplyDeletekeluarga besar saya juga baru saja kehilangan seseorang yang cukup berarti...
ReplyDelete@Mardee.. justru yang galak biasanya ngangenin.. tapi galaknya galak buat kebaikan ;)
ReplyDelete@Ivy.. innalillahi.. semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan almarhum/almarhumah diampuni dosa-dosanya dan amal ibadanhnya diterima oleh ALLAH SWT, amiin...
Hanya tinggal kenangan aja, tapi ada kalanya itu udah mencukupi untuk melalui kehidupan seterusnya, ya?
ReplyDeleteTake care.
@Nashe.. I love your words..
ReplyDeleteThnx for dropping sis ;)