Tak jarang kau memintaku memverbalkan maksudku
dengan cara yang sederhana
supaya kau mengerti aku
dan aku mengerti kamu
Kamu bertanya-tanya
aku pun begitu
Tapi dalam ketidak mengertianku tak jarang ku tersenyum
Jangan khawatir, sayang
aku tidak akan merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaanku padamu
karena aku sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan untuk diriku sendiri
Saturday, May 15, 2010
Saturday, May 8, 2010
Abu-abu Kelabu
Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore, entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang – karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi, memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut
yang berusaha menembus gorden ?
Petikan cerpen Linguae, Seno Gumira Ajidarma
Semuanya menjadi jelas
ketika aku menyukai ketidakjelasan dalam sebuah kepastian
seperti janji-janji yang mengawang jauh di atas awan
atau seperti bahasa yang aku tak mau mengerti
Aku bukanlah kamu
tidak akan dalam genggamanmu
tak akan pernah
dan selamanya bukan
Abu-abu Kelabu
Sunday, May 2, 2010
Pelajaran Pertama: Dalam Setiap Penggalan
Tapi mungkin kita perlukan sunyi
(Barangkali dalam secangkir kopi):
Kelam, pekat, mengepul dari pori bumi
Dari kolong waktu yang kenyang dilukai
penggalan puisi Ook Nugroho, Pelajaran Pertama Menulis Sajak
Mungkin ini seperti titik balik
Setelah sekian lama ku alami segala yang membuatku jungkir balik
Atau kenyataan yang terpantul dari cermin tak kasat mata
Ketika otak ini mengalami mati rasa
Jadi, semuanya jelas sudah. Bukan kemungkinan ketika akhirnya saya menemukan jawaban mengapa imaji ini mati adalah karena penyakit yang saya buat sendiri. Pernyataan klise bahwa "kamu adalah apa yang kamu fikirkan" itu memang menjadi kenyataan sekarang. Itu sudah terbukti pada saya. Ketika saya merasa tidak mampu untuk meninggalkan zona nyaman saya.
Entah mengapa semuanya terasa indah. Ketika imaji saya beku tiba-tiba saya teringat penggalan dari salah satu puisinya Shel Silverstein yang judulnya Forgotten Language:
Once I spoke the language of the flowers...
How did it go?
How did it go?
Kalau diterjemahkan ke dalam versi saya, kira-kira seperti ini:
Pernah untuk waktu yang lama aku bersekutu dengan kata
Sampai akhirnya ku merasa tak bisa membaca
Ku biarkan dia pergi
Sampai aku tak utuh lagi
Tuesday, February 2, 2010
Ruang Imajinasi: Peri Kecil Itu Kembali!
"Anne," kata Davy, "di mana sih, tidur?"
Anne sedang berlutut di jendela loteng barat untuk mengamati matahari terbenam yang mirip bunga raksasa dengan kelopak-kelopak bunga krokus dengan bagian tengahnya berwarna kuning kemerahan. Dia memalingkan muka ketika mendengar pertanyaan Davy dan menjawab sambil menerawang.
"Di atas gunung-gunung di bulan, di bawah lembah-lembah bayangan."
Paul Irving pasti mengerti perkataannya, atau membuat suatu pengertiannya sendiri. Namun, Davy yang praktis, yang sering kali Anne sadari dengan pedih, sma sekali tidak memiliki sedikitpun imajinasi, malah bingung dan sebal.
Lucy M. Montgomery - Anne of Avonlea
hitam
gelap
kelam
berusaha untuk terlelap
tapi mata ini tetap terjaga
ketika kudapati di langit sana berkerlap-kerlip sebuah tanda
ternyata itu si peri kecil!
memanggil dan terus memanggil
dengan apa ku membalas?
ketika yang kupunya hanya seberkas cahaya lilin
Sedari dulu saya selalu beranggapan bahwa bintang yang paling bersinar dipagi buta itu adalah si peri kecil sedang berusaha untuk berbicara pada saya melalui kerlap-kerlip senternya. Payahnya, saya tidak bisa morse. Kalaupun saya belajar, saya khawatir dia dan saya memiliki morse dengan arti yang berbeda. Selama ini saya hanya mampu menatap saja dan saya rasa si peri kecil cukup puas dengan itu.
Pagi tadi setengah jam sebelum azan Subuh, si peri kecil menyapa, ketika saya menyibak tirai jendela. Gelap sekitar karena mati lampu tidak lagi membuat saya takut karena ternyaya si peri kecil ada untuk menerangi saya :)
Seperti biasa, hal-hal yang membuat hati senang adalah hal-hal kecil yang mungkin biasa-biasa saja. Kenapa kita tidak mempergunakan ruang imajinasi kita yang selalu kita anggap tidak ada?
http://ceritatea.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
