Sunday, May 16, 2010

Seperti Cinta: Romantisme Claude Debussy

Saya penikmat musik klasik. Dan untuk Claude Debussy, saya "mengenal"nya ketika membaca Twilight: ketika Bella mendapati CD apa yang berada di dalam CD player nya Edward Cullen: Clair de Lune by Debussy.

Saya memang hanya penikmat musik klasik, bukan pengamat bahkan tidak ada kapasitas sekalipun untuk mengomentari, sejak saya tidak memahami apa itu prelude, menuet, dan passepied. Tapi setiap kali saya mendengarkan Clair de Lune, tak jarang selalu menyentuh sisi sentimentil saya. Clair de Lune yang berarti moonlight, belakangan baru saya kalau kalau inspirasi Debussy atas Clair de Lune adalah dari puisinya Paul Verlaine dengan judul yang sama.



While they sing in a minor key
Of all-conquering love and careless fortune,
They seem not to trust their own fantasy
And their song melts away in the light of the moon,*

Saya merasakan cinta datang merengkuh setiap kali menatap kubah langit di tengah malamnya alam raya. Pun ketika tanpa bintang dan bulan menyapa. Seperti cinta yang artinya memberi inspirasi dan kesendirian yang bagi saya berarti imajinasi, saya selalu mendapatkan perasaan postif bahwa dengan tangan saya ini, saya bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita saya.

They seem not to trust their own fantasy

dan saya tidak mau tidak mempercayai mimpi saya. Sesuatu yang selalu saya visualisasikan di dalam fikiran saya.


Dan di manapun kami berada
aku tahu, kami selalu menatap langit yang sama
malam yang sama
dengan bulan yang semakin menua


*Claire de Lune by Paul Verlaine

Saturday, May 15, 2010

Mengerti dan Tidak Mengerti

Tak jarang kau memintaku memverbalkan maksudku
dengan cara yang sederhana
supaya kau mengerti aku
dan aku mengerti kamu

Kamu bertanya-tanya
aku pun begitu
Tapi dalam ketidak mengertianku tak jarang ku tersenyum

Jangan khawatir, sayang
aku tidak akan merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaanku padamu
karena aku sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan untuk diriku sendiri

Saturday, May 8, 2010

Abu-abu Kelabu

Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore, entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang – karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi, memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut 
 yang berusaha menembus gorden ?
Petikan cerpen Linguae, Seno Gumira Ajidarma



Semuanya menjadi jelas
ketika aku menyukai ketidakjelasan dalam sebuah kepastian
seperti janji-janji yang mengawang jauh di atas awan
atau seperti bahasa yang aku tak mau mengerti
 
Aku bukanlah kamu
tidak akan dalam genggamanmu
tak akan pernah
dan selamanya bukan
                                                                                          Abu-abu Kelabu

Sunday, May 2, 2010

Pelajaran Pertama: Dalam Setiap Penggalan

Tapi mungkin kita perlukan sunyi
(Barangkali dalam secangkir kopi):
Kelam, pekat, mengepul dari pori bumi
Dari kolong waktu yang kenyang dilukai
penggalan puisi Ook Nugroho, Pelajaran Pertama Menulis Sajak


Mungkin ini seperti titik balik 
Setelah sekian lama ku alami segala yang membuatku jungkir balik
Atau kenyataan yang terpantul dari cermin tak kasat mata
Ketika otak ini mengalami mati rasa

Jadi, semuanya jelas sudah. Bukan kemungkinan ketika akhirnya saya menemukan jawaban mengapa imaji ini mati adalah karena penyakit yang saya buat sendiri. Pernyataan klise bahwa "kamu adalah apa yang kamu fikirkan" itu memang menjadi kenyataan sekarang. Itu sudah terbukti pada saya. Ketika saya merasa tidak mampu untuk meninggalkan zona nyaman saya.

Entah mengapa semuanya terasa indah. Ketika imaji saya beku tiba-tiba saya teringat penggalan dari salah satu puisinya Shel Silverstein yang judulnya Forgotten Language:

Once I spoke the language of the flowers...
How did it go?
How did it go?

Kalau diterjemahkan ke dalam versi saya, kira-kira seperti ini:

Pernah untuk waktu yang lama aku bersekutu dengan kata
Sampai akhirnya ku merasa tak bisa membaca
Ku biarkan dia pergi
Sampai aku tak utuh lagi