Sunday, May 16, 2010

23 Tahun


Selamat ulang tahun dede Jeffri...
Berapapun umurmu, kamu akan selalu menjadi dede ku
dede nya kakak
:)

Seperti Cinta: Romantisme Claude Debussy

Saya penikmat musik klasik. Dan untuk Claude Debussy, saya "mengenal"nya ketika membaca Twilight: ketika Bella mendapati CD apa yang berada di dalam CD player nya Edward Cullen: Clair de Lune by Debussy.

Saya memang hanya penikmat musik klasik, bukan pengamat bahkan tidak ada kapasitas sekalipun untuk mengomentari, sejak saya tidak memahami apa itu prelude, menuet, dan passepied. Tapi setiap kali saya mendengarkan Clair de Lune, tak jarang selalu menyentuh sisi sentimentil saya. Clair de Lune yang berarti moonlight, belakangan baru saya kalau kalau inspirasi Debussy atas Clair de Lune adalah dari puisinya Paul Verlaine dengan judul yang sama.



While they sing in a minor key
Of all-conquering love and careless fortune,
They seem not to trust their own fantasy
And their song melts away in the light of the moon,*

Saya merasakan cinta datang merengkuh setiap kali menatap kubah langit di tengah malamnya alam raya. Pun ketika tanpa bintang dan bulan menyapa. Seperti cinta yang artinya memberi inspirasi dan kesendirian yang bagi saya berarti imajinasi, saya selalu mendapatkan perasaan postif bahwa dengan tangan saya ini, saya bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita saya.

They seem not to trust their own fantasy

dan saya tidak mau tidak mempercayai mimpi saya. Sesuatu yang selalu saya visualisasikan di dalam fikiran saya.


Dan di manapun kami berada
aku tahu, kami selalu menatap langit yang sama
malam yang sama
dengan bulan yang semakin menua


*Claire de Lune by Paul Verlaine

Saturday, May 15, 2010

Mengerti dan Tidak Mengerti

Tak jarang kau memintaku memverbalkan maksudku
dengan cara yang sederhana
supaya kau mengerti aku
dan aku mengerti kamu

Kamu bertanya-tanya
aku pun begitu
Tapi dalam ketidak mengertianku tak jarang ku tersenyum

Jangan khawatir, sayang
aku tidak akan merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaanku padamu
karena aku sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan untuk diriku sendiri

Saturday, May 8, 2010

Abu-abu Kelabu

Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore, entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang – karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi, memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut 
 yang berusaha menembus gorden ?
Petikan cerpen Linguae, Seno Gumira Ajidarma



Semuanya menjadi jelas
ketika aku menyukai ketidakjelasan dalam sebuah kepastian
seperti janji-janji yang mengawang jauh di atas awan
atau seperti bahasa yang aku tak mau mengerti
 
Aku bukanlah kamu
tidak akan dalam genggamanmu
tak akan pernah
dan selamanya bukan
                                                                                          Abu-abu Kelabu