Thursday, October 8, 2009

Dan Saya Akan Terus Berjalan

Tea The Great

I'm the wunderkind

I'm the magnet

...

dan masih banyak lagi julukan hebat yang saya buat yang ditujukan untuk... ehm, saya sendiri :D annoying, huh?! Tapi, itu adalah cara saya untuk memotivasi diri saya :) Toh saya gak pernah mengumbar julukan tersebut kepada orang-orang. Palingan saya lontarkan as a joke aja.

Bahkan phone name saya adalah Tea The Great...
Dan saya mengulangi julukan-julukan tersebut sebanyak yang saya mampu di dalam hati ketika saya merasa saya hilang kendali atas dunia saya.

Saya memiliki mimpi. Mimpi yang indah yang sudah saya bangun bertahun-tahun lamanya. Saya merasa mimpi itu semakin dekat. Tetapi, ketika kedekatan itu nyata di depan mata, jalana saya menuju ke arahnya dihalangi oleh kabut dan tiba-tiba saja jalannya menjadi bercabang.


Berulang kali saya kehilangan arah. Berulang kali saya berjalan terseok-seok. Terperosok. Menangis karena luka. Bangkit. Berjalan lagi. Lalu berlari. Lalu jatuh karena saya kurang hati-hati. Menangis lagi. Bangkit lagi. Hilang arah lagi. Sampai saya menemui sebuah pohon rindang dan memutuskan untuk rehat sejenak. Tapi saya malah keenakan. Rasa putus asa dan malas untuk meneruskan perjalanan begitu kuat mempengaruhi.
Lalu wajah bijak laki-laki itu menari-nari di benak dan fikiran saya. Laki-laki hebat yang selalu membuat saya merasa hebat.

He's my beloved dad...

Dengan caranya, beliau tidak pernah mengajarkan saya berkata "I've done my best". Karena itu kalimat saktinya orang pesimis. Dengan caranya, beliau mengajarkan kepada saya bahwa motivator  utama dan terbesar adalah diri sendiri. Orang lain itu kedua. Kalau difikir bener juga. Karena percuma kalau kita disodorin begitu banyak contoh orang-orang sukses dan membaca biografi mereka, kalau passion di dalam diri untuk memperjuangkan cita-cita itu redup, dan kita gak gak ada keinginan untuk mengobarkannya kembali.

Terus terang sekarang saya sedang terperosok lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Lelah? Pastinya. Tapi saya gak mau berhenti berjuang.

Ikhtiar.

I know Allah knows the best for me.


They do try hard to make me feel
That I don't matter at all
But I refuse to falter
In what I believe
Or lose faith in my dreams

Can't Take That Way - Mariah Carey




ps: ketika tiba-tiba saya terbangun dari tidur saya dan mendapati kertas itu masih kosong. Putih bersih. Sama seperti pertama saya mengambilnya.




http://ceritatea.blogspot.com

Tuesday, October 6, 2009

Sunday, October 4, 2009

Ruang Istimewa

“Where do balloons go ? It’s a mystery, I know. So just hold on tight till you have to …
… let go.”
Where Do Balloons Go? Jamie Lee Curtis 


Buku cerita anak-anak memang, tapi saya suka banget sama pesan yang ada di dalam cerita tersebut. Maag yang membuat saya menghibur diri saya dengan menulis dan googling data-data yang relevan buat tulisan saya (gak sempet turun langsung soalnya) membuat saya teringat sama buku cerita anak yang pernah saya baca waktu di rumah Kintan.

Fikiran yang berkelebat sore itu sama sekali gak ada hubungannya sama tulisan yang sedang saya buat.



Where Do Balloons Go menceritakan seorang bocah lelaki yang kehilangan balonnya di taman ria. Bocah laki-laki itu berimajinasi ke mana balonnya pergi. Apakah balon-balon tersebut pergi berlibur, terkena flu, menari dan berpesta, meleleh terbakar oleh matahari, hingga akhirnya semua imajinya tentang kemana perginya balon-balon miliknya itu ditutup oleh keputusannya untuk merelakan balon-balon tersebut pergi.

Bingo! yang ada di fikiran saya ketika saya teringat dengan cerita itu adalah (again) masalah kerelaan untuk melepaskan. Yah mungkin juga karena orang tua saya tuned Metro dan TVOne yang menyiarkan tentang bencana dan kehilangan yang dialami saudara-saudara kita di Sumbar.

Yang ada difikiran saya saat ini adalah sahabat saya yang "meninggalkan" saya dan dua sahabat saya yang lain.. With no vivid reason. Sudah hampir satu tahun. Dan selama itu kami bertiga (saya dan 2 sahabat saya yang lain) menduga-duga kenapa dia pergi begitu aja.

He has a little happy family now. Dan kami senang. Walau ada rasa miris juga, karena selama tahun-tahun yang panjang kami biasa shared kebahagiaan dan kesedihan bersama.

Sampai akhirnya kami bertiga memutuskan untuk mengakhiri dugaan-dugaan tentang kepergiannya yang hanya membuat kami sedih... Photobucket

He has his own life now and he's happy with that. And we're happy for that too.

Walau begitu harapan itu ada. Harapan untuk suatu hari ketemuan. Cuma ketemuan aja kita pastinya udah seneng banget :) Dan harapan itu terwujud. Bukan ketemuan memang. Lebaran hari pertama yang lalu, dia menghubungi salah seorang di antara kami bertiga :D Itu berarti kami masih ada di hatinya, alhamdulillah :)

Saya jadi berfikir, antara kehilangan dan pengganti dari kehilangan itu, ada suatu ruang yang namanya harapan.

"Harapan itu ruang kosong, Tie" kata Zelig, di suatu kesempatan dan topik pembicaraan yang berbeda.

Tapi saya tidak setuju dengan pendapat Zelig. Menurut saya, harapan itu adalah ruang istimewa. Ruang yang hanya ada ketika keikhlasan dan kesabaran untuk melepaskan itu ada. Saya menyadari, hidup itu itu indah dengan adanya kehilangan dan harapan. Kalau kata New Radicals : don't give up, you've got a reason to live, can't forget you only get what you give.

Seperti yang sudah pernah saya ungkapkan di postingan saya sebelumnya, bahwa yang hilang itu akan digantikan, meskipun dengan wujud yang berbeda.

Saya hanya tidak mau bersedih dengan meratapi apa yang hilang dari saya. Dengan terus menggenggam sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di dalam genggaman saya. Saya hanya tidak mau cemburu kepada orang lain dengan berfikiran bahwa seharusnya saya yang bisa/masih memiliki sesuatu itu. Saya hanya tidak mau mengubah ruang yang seharusnya istimewa menjadi ruang kosong biasa. Saya tahu kehilangan itu datangnya dari Allah dan Allah, insyaAllah, akan menggantikannya.. dengan yang lebih baik. Saya hanya tidak mau kehilangan iman.

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
(QS.al-Baqarah [2]:155)



http://ceritatea.blogpsot.com

Thursday, October 1, 2009

Minggu Kehilangan

Yang hilang dan yang ditemukan...

Mulai dari saya yang kehilangan stylus saya, Zelig yang kehilangan Chiripa, Kintan yang kehilangan sepasang kelinci kesayangannya, Tintin dan Tonton, teman-teman kantor yang kehilangan, Woro, Roy "cumi" Kumo (minggu depan Brondonkz ya? huhu...) sampai yang terkahir, yang merupakan kehilangan terbesar untuk saudara-saudara kita di Padang.

Tapi alhamdulillah, banyak juga yang ditemukan dan terungkap. Yang buat saya surprised adalah pertanyaan seorang teman lama yang saya temui malam ini sepulang kantor.

Dia (D) : saya pernah nyakitin perasaan kamu gak, Tie?

Saya (S) : *ketawa* menurut kamu?

D : I feel so bad

S : ya, ya... tapi udah lewat *saya menatap empat sekawan yang sedang tertawa ringan dalam suasana yang penuh kehangatan, dari balik bahu Dia. Tiba-tiba saja saya jadi inget Coky, Uth, dan... Ojie...

D : maaf...

S : Segala sesuatu terjadi karena alasan. Dulu kita masih muda banget. Dibanding sekarang. I learn to treasure each moment of time, whether it's good or damn bad.


dan akhirnya pagi selalu datang...

Ketika kita merasa bahwa yang hilang tidak akan tergantikan, luka tak akan mengering, rasa takut yang tak akan berakhir...


Saya selalu percaya bahwa yang hilang akan digantikan dengan wujud yang berbeda. Seringkali kita gak sadar (atau bahan gak mau sadar dan membuka hati dan fikiran kita). Contoh kecil ketika saya merasa kehilangan Mo, pada akhirnya saya tahu Mo digantikan dengan 8 orang teman yang seru yang memiliki karakter yang berbeda. Meski begitu bukan berarti saya melupakan Mo.

Saya merasakan arti kehilangan ketika saya ditinggalkan oleh Opa dan Nenek. Ketika Kakek meninggal, saya masih sangat kecil, sehingga saya belum mengerti arti kehilangan. Bahkan saat itu saya tidak mengetahui Kakek sudah meninggalkan dunia.

Pertama Opa. Kedua Nenek.
Semenjak kedua orang yang saya cintai itu meninggal, saya hanya memiliki Oma. Saya selalu menikmati dan mencintai tiap detik ketika saya berada dekat dengan Oma.


Semenjak itu saya menyadari bahwa kita dibentuk oleh kehilangan. Ketika sesuatu atau seseorang yang kita sayangi hilang, maka kita akan mencintai dan lebih menghargai keberadaan yang masih ada. Maka pola fikir saya pun berubah, bahwa kesenangan dibentuk oleh kehilangan.


Tau kain perca, kan?

Kain-kain beraneka bentuk, warna dan motif.

Mama saya pernah membu at selimut dari kain perca. Walaupun dibuat dari kain yang berbeda-beda, tapi toh ia bisa menghangatkan. Mungkin tidak terasa tidak senyaman yang sebelumnya. Tetapi ttidak dapat dipungkiri bahwa tetap saja ia mampu mengisi rongga-rongga kehilangan Itu adalah analogi untuk menyatukan kembali kepingan kehilangan yang merupakan proses untuk menemukan.
I thought I lost you when you ran away to try to find me
I thought I'd never see your sweet face again
I turned around and you we
re gone
And on and on the days went

I kept the mo ment that we were in
Cause I knew in my heart you'd come back to me, my friend
And now I got you, but I thought I'd lost you

I Thought I Lost You - Miley Cyrus & John Travolta







ada Woro, Roy & Brondonkz














http://ceritatea.blogspot.com