Sunday, October 4, 2009

Ruang Istimewa

“Where do balloons go ? It’s a mystery, I know. So just hold on tight till you have to …
… let go.”
Where Do Balloons Go? Jamie Lee Curtis 


Buku cerita anak-anak memang, tapi saya suka banget sama pesan yang ada di dalam cerita tersebut. Maag yang membuat saya menghibur diri saya dengan menulis dan googling data-data yang relevan buat tulisan saya (gak sempet turun langsung soalnya) membuat saya teringat sama buku cerita anak yang pernah saya baca waktu di rumah Kintan.

Fikiran yang berkelebat sore itu sama sekali gak ada hubungannya sama tulisan yang sedang saya buat.



Where Do Balloons Go menceritakan seorang bocah lelaki yang kehilangan balonnya di taman ria. Bocah laki-laki itu berimajinasi ke mana balonnya pergi. Apakah balon-balon tersebut pergi berlibur, terkena flu, menari dan berpesta, meleleh terbakar oleh matahari, hingga akhirnya semua imajinya tentang kemana perginya balon-balon miliknya itu ditutup oleh keputusannya untuk merelakan balon-balon tersebut pergi.

Bingo! yang ada di fikiran saya ketika saya teringat dengan cerita itu adalah (again) masalah kerelaan untuk melepaskan. Yah mungkin juga karena orang tua saya tuned Metro dan TVOne yang menyiarkan tentang bencana dan kehilangan yang dialami saudara-saudara kita di Sumbar.

Yang ada difikiran saya saat ini adalah sahabat saya yang "meninggalkan" saya dan dua sahabat saya yang lain.. With no vivid reason. Sudah hampir satu tahun. Dan selama itu kami bertiga (saya dan 2 sahabat saya yang lain) menduga-duga kenapa dia pergi begitu aja.

He has a little happy family now. Dan kami senang. Walau ada rasa miris juga, karena selama tahun-tahun yang panjang kami biasa shared kebahagiaan dan kesedihan bersama.

Sampai akhirnya kami bertiga memutuskan untuk mengakhiri dugaan-dugaan tentang kepergiannya yang hanya membuat kami sedih... Photobucket

He has his own life now and he's happy with that. And we're happy for that too.

Walau begitu harapan itu ada. Harapan untuk suatu hari ketemuan. Cuma ketemuan aja kita pastinya udah seneng banget :) Dan harapan itu terwujud. Bukan ketemuan memang. Lebaran hari pertama yang lalu, dia menghubungi salah seorang di antara kami bertiga :D Itu berarti kami masih ada di hatinya, alhamdulillah :)

Saya jadi berfikir, antara kehilangan dan pengganti dari kehilangan itu, ada suatu ruang yang namanya harapan.

"Harapan itu ruang kosong, Tie" kata Zelig, di suatu kesempatan dan topik pembicaraan yang berbeda.

Tapi saya tidak setuju dengan pendapat Zelig. Menurut saya, harapan itu adalah ruang istimewa. Ruang yang hanya ada ketika keikhlasan dan kesabaran untuk melepaskan itu ada. Saya menyadari, hidup itu itu indah dengan adanya kehilangan dan harapan. Kalau kata New Radicals : don't give up, you've got a reason to live, can't forget you only get what you give.

Seperti yang sudah pernah saya ungkapkan di postingan saya sebelumnya, bahwa yang hilang itu akan digantikan, meskipun dengan wujud yang berbeda.

Saya hanya tidak mau bersedih dengan meratapi apa yang hilang dari saya. Dengan terus menggenggam sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di dalam genggaman saya. Saya hanya tidak mau cemburu kepada orang lain dengan berfikiran bahwa seharusnya saya yang bisa/masih memiliki sesuatu itu. Saya hanya tidak mau mengubah ruang yang seharusnya istimewa menjadi ruang kosong biasa. Saya tahu kehilangan itu datangnya dari Allah dan Allah, insyaAllah, akan menggantikannya.. dengan yang lebih baik. Saya hanya tidak mau kehilangan iman.

"Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
(QS.al-Baqarah [2]:155)



http://ceritatea.blogpsot.com

No comments:

Post a Comment