Sunday, June 7, 2009

Pengalaman dan Teguran

Sore itu, Jj, adik semata wayang saya, menjemput saya di kantor. Sebelumnya dia memang SMS saya, menanyakan saya lembur atau tidak. Dia mengingankan saya untuk mengantarnya ke Gramedia untuk mencari buku referensi yang dia butuhkan untuk tugas akhirnya. Saya meng-iya kan permintaannya. Saya berfikir saya buruh refreshing juga. Di satu sisi, saya merasa worry juga karena pastinya akan tergoda dengan buku-buku di sana. Takut tergoda untuk membeli buku lagi. The Known World nya Edward P. Jones yang saya beli di Kedai Kopi Telapak saja belum tuntas saya baca.

Buku memang salah satu godaan terbesar saya *grin* Tapi saya memantapkan hati untuk tidak tergoda.

Kurang lebih jam lima saya keluar kantor dan melihat Jj memarkirkan mobilnya tepat di depan kantor. Kami pun langsung meluncur dari Kedunghalang ke Gramedia Botani Square di Pajajaran. Sesampainya di Gramed, saya dan Jj berpencar. Dia ke section buku-buku manajerial sedangkan saya ke section novel yang berada di belakang. Asli saya hanya berniat untuk melihat-lihat saja. Setiap kali saya menyadari kadar iman saya meluntur, saya teringat dengan novel dengan ketebalan 653 halaman di rumah yang baru saya baca sampai halaman 27, ketika Priscilla mengamati Moses ketika suaminya itu perlahan-lahan terlelap, den begitu Moses tertidur, ia mengangkat tangan suaminya. Dia bawa tangan itu ke wajahnya dan tercium olehnya semua dunia luar yang dibawa masuk Moses. Lalu Priscilla sendiri mencoba untuk tidur*.

Tapi ternyata saya tidak cukup kuat untuk menahan keinginan untuk tidak membeli tiga buah buku yang benar-benar menggoda saya untuk membawa mereka pulang dan menjadikan mereka milik saya. Mereka adalah Muhammad Sang Kekasih nya Ahmad Rofi' Usmani, Tintenherz nya Cornelia Funke, dan edisi terbaru Ketika Cinta Bertasbih nya Habiburrahman El Shirazy.

Jj hanya mengrenyikan dahinya ketika melihat saya membawa ketiga buku berukuran tebal itu ke kasir. Saya hanya tersenyum simpul. Ketika si mba kasir menyebutkan sejumlah rupiah yang harus saya bayarkan untuk membawa buku-buku tersebut pulang, saya mengeluarkan jaru debet dari dompet saya.
Pertama, mba kasir itu menggesek kartu debet saya di EDC nya Mandiri. Hasilnya kartu saya declined. Lalu dia mencoba menggesek kartu berwarna hijau tersebut di EDC nya BCA. Dan.. tadaaa... hasilnya pun sama. It was DECLINED!.

Wah, ada apa ini? Tidak mungkin saya membayar cash, mengingat di dompet hanya ada selembar uang 50.000 dan dua lembar 20.000. Sedangkan saya harus membayar sekitar 270ribu-an untuk ketiga buku tersebut.

Waaa... saya panik! Malu-maluin aja deh! Akhirnya saya izin ke kasir untuk ke ATM sebentar sementara saya menyuruh Jj menunggu. Selagi berjalan ke ATM, saya sempat worry juga, gimana kalau ATM nya sedang rusak karena gangguan jaringan. Hwaaa..... fikiran saya melanglang ke mana-mana. Alhamdulillah ternyata ATMnya baik-baik saja sehingga saya bisa mengambil uang untuk membayar buku-buku tersebut.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya tersadar bahwa kejadian tadi adalah teguran dari Allah. Bagaimana tidak, selama satu bulan ini saya sudaj banyak mengeluarkan rupiah untuk berbelanja online maupun offline. Betapa saya sudah hidup berlebih-lebihan dan menghabiskan uang di tabungan saya untuk hal-hal yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Saya mengiyakan apa kata nafsu saya. Padahal nafsu itu adalah bisikan syaitan.

Kenapa saya tidak puas dan tidak mensyukuri dengan apa yang sudah saya punya. Buku contohnya. Belum habis satu buku saya baca tetapi saya sudah membeli tiga buku lainnya. Lalu tas. Dalam sebulan saya membeli empat buah tas! Padahal tas-tas saya masih banyak dan layak pakai.

Saya beneran payah, deh... :(

"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudar-saudara setan"
(QS. al-Isra' [17]:27)
Naudzubillah....



*The Known World, page 27





Saturday, June 6, 2009

Ku Akan Jaga Mereka Selamanya

 
my very best friends ever, insyaAllah :)




Sunday, May 17, 2009

Tentang Rasa Takut

Tuhan mengalihkanmu dari perasaan yang satu ke yang lain
dan mengajarimu dengan hal-hal yang bertentangan, sehingga kau akan punya dua sayan untuk terbang--
bukan satu.
[Rumi]

Hari itu, kekhawatiran menyambut pagi saya. Rasa merasa khawatir saya akan melakukan kesalahan di kantor. Gimana ya, dunia yang saya geluti sekarang adalah perbankan. Berbeda dengan pekerjaan pertama saya yang seputar dunia telekomunikasi. Setiap pekerjaan memang dituntut untuk teliti. Tetapi saya merasa di karir saya yang sekarang ini seolah ada motto "tidak boleh salah".

sniff...

Salah nulis angka bisa fatal!

Saya selalu merasa ketika kita melakukan kesalahan, berarti kita membuang waktu kita. Bener gak ya? Lalu apa artinya "belajar dari kesalahan" kalau begitu? *jadi mumet deh*

Sempat sulit juga melangkahkan kedua kaki saya menuju kantor. Saya takut. Takut salah lagi. Takut tak mudah mengerti. Wah, payah, kenapa saya jadi seorang yang pesimis sebelum bertempur ya? Tapi beneran, deh, hari itu saya takut banget. Saya merasa tidak sanggup menghadapi tantangan.

Sambil jalan dan menghirup udara pagi yang segar, saya berfikir, kalau saya tidak berani dengan tantangan, tidak mau belajar dari kesalahan, dan takut melakukan kesalahan, kapan saya bisanya? Justru seseorang menjadi tahu karena dia belajar, dia belajar karena dia pernah salah, dia pernah salah karena dia awalnya tidak tahu.

Yipeee!!!

"Ya Allah, luruskan ketakwaanku, yang menjadi dasar hidupku,
dan luruskan urusan-urusan duniawiku, tempat aku beroleh nafkah, dan limpahkan
kepadaku kebaikan di Akhirat, yaitu tempat aku kembali.
Jadikanlah hidupku jalan untuk menghimpun kebaikan,
dan jadikan kematian saatku terbebas dari semua keburukan"
[Muslim]

Saturday, May 16, 2009

Tentang Prasangka

Assalamualaikum...

Sudah lama ya saya gak update blog ini. Dulu sekalinya rajin bisa sehari beberapa kali posting! hahaha... Well, banyak hal yang terjadi selama rentang waktu dari terakhir kali saya posting sampai hari ini (dan hari-hari selanjutnya, insyaAllah).

Saya mendapatkan pekerjaan baru di salah satu bank BUMN, saya mendapatkan teman-teman baru yang hebat-hebat ketika pendidikan di bank tersebut, saya mendapatkan pencerahan untuk memperkuat iman saya, saya belajar lagi, lagi dan lagi, sampai akhirnya saya terbaring di tempat tidur. Tepar. Mestinya hari ini saya overtime untuk membantu teman-teman kantor saya yang lain melakukan tunggalisasi data.

ga papa, bsk ga usah masuk..
cepet sembuh ya..

ujar salah seorang teman saya kemarin malam via SMS.

Memang yang namanya sakit itu gak enak. Kemarin saya terpaksa izin ga masuk. Sebenarnya gak enak juga. Masih baru udah izin. Tapi mau bagaimana lagi, maag ini memang benar-benar mengganggu. Tapi alhamdulillah, Allah masih sayang sama saya. Saya lagi disentil. Selama ini saya lalai sama pola hidup saya. 
 
Anyway, iman saya sempat diayun dengan yang namanya "prasangka". Apalagi kalau bukan prasangka buruk terhadap seseorang. Duh, saya ini egois sekali ya? Seperti tak pernah berbuat salah saja. Sok tau banged deh.

Saya serasa dihantam oleh godam ketika membaca hadis berikut:

"Janganlah banyak berbicara tanpa mengingat Allah karena hatimu akan mengeras.
Hati yang keras jauh dari Allah, tetapi kau tidak mengetahui. Jangan melihat kesalahan orang seolah kau adalah raja.
Lihatlah perbuatan salahmu seolah kau adalah hamba.
Sebagian orang menderita sakit berbuat salah dan sebagian orang terlindungi dari berbuat salah.
Berbelas kasihlah kepada orang yang menderita itu dan bersyukurlah kepada Allah atas lindungan-Nya"
[Muslim]

See.. jelas saya merasa bersalah sekali. Saya telah men-judge seseorang, padahal saya tidak tahu pasti apa permasalahannya. Seseorang itu memiliki landasan atas setiap tindakannya. Itu yang saya tidak sadari. Saya seharusnya bisa lebih bijak dengan tidak cepat menilai dan mengambil keputusan. Saya seharusnya melihat segalanya dengan lebih dekat. Berusaha memahami. Itu yang saya lupa.
 
InsyaAllah saya akan berbaik sangka kepada semua orang. Berbaik sangka kepada setiap kejadian dan ujian yang Allah berikan kepada saya. insyaAllah :)