Showing posts with label Meaningless. Show all posts
Showing posts with label Meaningless. Show all posts

Thursday, February 12, 2009

Kebahagiaan Itu

Sudah satu minggu belakangan ini saya merasa kalau saya sudah kehilangan diri saya; arti dari eksistensi saya, tujuan saya, dan apa yang harus saya lakukan. Saya tidak pernah merasa se-miserable ini sebelumnya. Apabila saya sedih karena hal-hal tidak berjalan tidak sesuai seperti yang saya inginkan, itu tidak akan bertahan lama. Tapi sekarang, semuanya tidak sama.

Penyebab terbesar kenapa saya merasa meaningless adalah karena saya menyadari kalau saya sudah mengambil keputusan yang salah. Saya menyadari kalau dua bulan pasca pengambilan keputusan itu ternyata tidak semudah yang saya kira. Banyak hal-hal tidak menyenangkan datang silih berganti. Herannya, saya tidak bisa melawan.

Kata-kata The Dearest yang biasanya mampu menyadarkan saya, kini sudah tidak ampuh lagi. Saya sudah membuat orang-orang di sekeliling saya bingung. Terutama The Dearest. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi.

Should I tell: enjoy your meaningless, then.. ?

Saya hanya bisa diam terpaku.

It's all about how to struggle in this world and dealing with everyday life which is getting callous day by day. It's all about how to live your life and mend the broken hearts of loved ones because of my wrong decision. Apa yang terjadi dikala aksi tak sekuat keinginan untuk melakukan perubahan. Virus apa yang telah menyerang saya? Yang membuat antusiasme dan semangat saya runtuh tak bersisa.

Saya nonton film Pursuit of Happyness kemarin. The right movie for the tired soul. Sebuah perjuangan hidup dalam pengejaran sesuatu bernama kebahagiaan. Itu benar-benar menggugah saya. Berkali-kali saya ucapkan istigfar dalam hati. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya mampu menghadapi situasi seperti yang Chris Gardner hadapi? Seorang pejuang kehidupan sejati. Film ini sungguh menggugah karena berdasarkan kisah nyata. Chris Gardner itu benar-benar ada.

Sebentar lagi saya 25
saya tak berharap saya 25
karena saya merasa tak pantas untuk 25
tetapi, pantaskah apabila saya mengawali segala sesuatunya lagi pada 25?
adakah kesempatan untuk bahagia itu ada setelah 25?