Batas Kemampuan Manusia Seorang perempuan berusia 64 tahun asal Duluth, Minnesota (AS), jatuh di atas es Desember 2008 karena radang sendi. Berjam-jam ia terpaksa berbaring di salju. Suhu tubuhnya turun hingga 21 derajat Celcius. Jantungnya berhenti berdetak. Perempuan ini sebenarnya bisa meninggal. Namun dokter berhasil menyelamatkannya...
Saya sempat takjub ketika membaca kalimat pembuka rubrik kesehatan di
NGI edisi Oktober 2009. Rubrik kesehatan edisi tersebut menyebutkan sembilan standar dana acuan terkini batasan ekstrem kemampuan manusia untuk bertahan hidup.
Yang saya garis bawahi saat membaca kalimat tersebut adalah: suhu tubuh turun 21 derajat Celcius. Jantung berhenti berdetak. Bisa meninggal. Dokter berhasil menyelamatkannya.
MasyaAllah...
Kalau begitu, kita tidak perlu khawatir kalau kita terserang "sakit hati". Bahkan sakit hati yang akut sekalipun.
Lho???
Kebetulan saja, tema status di FaceBook malam ini adalah "Sakit Hati". Jengah juga. Tapi rasa itu kan manusiawi. Saya jengah karena saya sudah kenyang dengan sakit hati dan dalam keterpurukan menemukan kebahgiaan yang hanya bisa dimengerti oleh saya sendiri.
Waktu saya terserang "sakit hati" beberapa bulan lalu, seorang
sahabat bilang pada saya, bahwa saya ini sebenrnya kuat.. kuat banget (ini saya yang nambahin sendiri hehe..) makanya Allah ngasih cobaan seperti ini. Saya mikir, ada benarnya juga. Karena kan di al Qur'an juga disebutkan bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan ummat-Nya. Jadi, sebenarnya gak ada alasan untuk kita merasa jadi orang paling merana sedunia.
Tapi namanya juga manusia.. Walau udah ada teman-teman yang "nyadarin" tapi tetep aja gak mau keluar dari kungkungan rasa sakit hati tersebut. Ada banyak alasan. Saya juga begitu.
Sampai akhirnya dikasih cara penyadaran yang rada "ekstrem" dan saat itu lah kepala saya seperti dipentung.
Sebut saja namanya Puspa. Ketika sore menjelang, dia suka berjualan kue keliling. Anaknya rajin. Pintar. Mau belajar. Saya tanya, berapa umurnya. Dia jawab dengan suaranya yang ramah dan berirama, 16 tahun, Teh..
Owh, di SMA mana?
Bukannya menjawab dia malah diam. Melemparkan pandangan ke arah lain lalu menunduk.
Kenapa?
tanya saya.
Gak nerusin sekolah, Teh.
Jawab Puspa. Irama suaranya sumbang. Ada rona terluka yang terpancar dari tatapan matanya.
Kenapa?
Bapak saya sudah gak ada. Tinggal Emak sama dua adik saya. Emak yang biasanya jualan kue. Tapi karena sering sakit jadi saya, Teh. Saya pengen nerusin sekolah tapi Puspa ngerasa adik-adik Puspa lebih butuh pendidikan daripada Puspa. Kalau Puspa maksain sekolah kasian Emak.. kasian adik-adik Puspa...
Jantung saya berasa mencelos. Ada rasa bersalah menanyakan sebabnya. Kekecewaan jelas terlihat. Ada sakit hati. Pasti. Kasarnya seperti keinginan yang seharusnya bisa ia raih karena itu merupakan haknya, tetapi tidak bisa ia raih.
Puspa dan saya memiliki cerita yang berbeda. Tetapi dampak yang sama: sakit hati. Tapi keseharian dia masih bisa terlihat happy dan melangkahkan kakinya dengan ringan. Padahal tekanannya lebih besar daripada saya. Himpitan ekonomi. Hak meneruskan pendidikan yang tidak belum bisa diraih. Merelakan waktu bermain bersama teman-teman untuk berjualan.
Sedangkan saya?
ayo senyum.. senyum.. nyengir juga gak apa-apa
Memang masalah setiap orang berbeda. Kadar sakit hati setiap orang pun berbeda. Tetapi kesimpulannya tetap sama. Sakit hati, sedih, marah itu sangat sangat manusiawi. Tapi membiarkan berlarut-larut dan "memanjakan" diri untuk terus berada di dalamnya, itu yang gak bener. Kembali lagi ke rujukan bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kemampuan ummat-Nya. Dan itu membuat saya membenarkan perkataan
sahabat saya bilang bahwa kalau dikasih cobaan itu berarti kita kuat. Bisa nge handle. Bisa keluar dari tekanan. Yang pada akhirnya saya bilang hanya orang keren lah yang mau dan yakin mampu untuk bangkit , melangkahkan kaki dengan mantap dan menatap dunia dengan keyakinan.
Berati saya keren. Keren banget! ^^,
http://ceritatea.blogspot.com
ditaro mana stylus gueee??? huhu.. ntar gue kasi pedang starwars deh.. atau pizza? ntar gue kirim ke Hjs... tulisannya doang tapi...
jelek lu, Donkz
http://ceritatea.blogspot.com